Gimana dengan kamu, kamu tim Output atau Outcomes?

Menantang sekali tiap kali menerangkan apa beda output & outcomes. Ini jadi topik hangat setiap kali bertemu & bergagasan dengan banyak kalangan. Secara harfiah jika dibahas dalam konteks bisnis, output menggambarkan hasil dari sebuah aktivitas yang diselenggarakan namun belum menunjukkan dampak terukur pada pada konsumennya. Sedangkan outcome, adalah nilai tambah yang terjadi / terbentuk yang dihasilkan dari sebuah output yang ditargetnya.

Sederhananya, outcomes adalah kemapuan yang terjadi dan atau terbentuk seteleh sebuah kegiatan (output) terlaksana. Biasanya berupa tercapai kemampuan yang diharapkan, setelah ini akan menimbulkan dampak yang diharapkan.

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan memang hendaknya yang perlu fokus justru pada outcomesnya yakni pencapaian kemampuannya, bukan semata-mata pada outputnya atau apa seberapa seringnya kita berkegiatan. Fokuslah pada “Kemampuan yang timbul dan akan berakibat apa?” Hal ini memang menantang, karena ukuran kesuksesannya bukan hanya pada terlaksana saja, tapi suksesnya diukur dari “menjadi bisa apa” & “mendatangkan akibat apa” kemudian.

Setelah lama sekali berhubungan dengan banyak lembaga, sebagian besar lembaga yang kesulitan memahami perbedaan output vs outcomes. Biasanya adalah institusi-institusi yang kerap melupakan Big Why nya, melompati untuk paham secara mendalam fundamental sebuah program.

Ini kerap terjadi karena inisiator yang biasanya pimpinan menuangkan gagasannya di level atas kemudian terterjemahkan sekedar kegiatan di tim-tim teknis. Kesalahan fatal ini membuat gagasan besar jadi hambar ditataran teknis.

Kegiatan yang sekedar berkegiatan bisa jadi bukan kesalahan tim teknis, tapi pesan kuatnya tak tersampaikan. Dalam manajemen modern seperti Scrum, kegiatan-kegiatan selalu memastikan pada setiap tahapannya untuk mendatangkan outcomes.

Untuk memastikannya, pada setiap tahap dilajukan sesi review apakah produknya mencapai definisi sukses yang diharapkan, dan retrospektif yang memastikan bahwa timnya bekerja semakin baik, & tetap paham fundamental serta filosofi dari Big Why nya yang diturunkan dalam aktivitasnya sehari-hari.

Gimana dengan kamu, kamu tim Output atau Outcomes?

Top 3 Barriers to Innovation in Higher Education

Dua hari bersama kawan-kawan Unsoed merancang kurilukum agar dapat menjadi wadah pembelajaran transformatif. Sesi-sesi ini selalu menjadi bahan retrospektif yang baik untuk menghasilkan beragam cara baru menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan jamannya.

Menyitir sebuah tulisan di Forbes, 2018 “Mengapa dibanyak institusi pendidikan dimana banyak diisi oleh para individu brilian yang bermotivasi tinggi dalam mengelola pendidikan tinggi justru menghambat inovasi yang semestinya tumbuh subur di institusi ini?”

Pada sebuah riset, ternyata jika institusi pendidikan mengalami kesulitan menggelorakan inovasi dilingkungannya disebabkan karena 1) sistem internal, struktur proses pengambilan keputusan, 2) organisasi silo, 3) budaya & startegi. Hasil ini menggambarkan situasi mengapa institusi pendidikan justru kerap kali menghambat proses inovasi?

Jika dipikirkan memang beberapa tipe universitas justru kerap bangga dengan aturan, persyaratan, politik & tradisinya sendiri ketimbang apakah institusinya melahirkan inovasi yang by-design.

Banyak juga perguruan tersesat dimana pendidikannya tak berpusat pada pembelajar, karena lebih menghargai penelitian daripada proses pembelajaran. Tantangan ini banyak memicu kegelisahan. Kala dunia industri ingin menjadi lebih inovatif & responsif, tapi kebanyakan universitas justru tak mengajarkan cara ini, atau menumbuhkan kualitas seperti ini pada siswanya.

Mengajarkan cara berinovasi kebanyakan tak mendapat tempat dalam kurikulum formal, kondisi ini memaksa mahasiswa harus mencari suatu tempat antara kuliah & aktualisasi diluar kuliah untuk mengembangkan kemampuannya berinovasinya secara “ajaib”. Pendidikan yang berpusat pada pembelajar perlu jadi prioritas, ini akan mengarahkan proses pada prevalensi yang lebih tinggi pada hadirnya inovasi dari praktek-praktek pembelajaran yang user-centric, membuat pembelajaran yang menyenangkan, menantang & memberi ruang eksplorasi yang membuahkan inovasi.

Sebuah kerinduan melihat lebih banyak contoh pemikiran inovatif di kampus-kampus, memberi siswa lebih banyak ruang mengembangkan kemampuan bawaannya, lebih banyak fleksibilitas untuk siap menghadapi dunia yang menanti mereka dimasa depan.