Bagaimana dengan ekosistem kamu, sudah jadi collective genius?🚀🚀

Menjalankan sebuah inovasi memerlukan sebuah ekosistem yang mau & mampu melaksanakan kerja kerasnya menuju proses inovasi. Dalam proses kerja kerasnya, kerangka inovasi ini membutuhkan tiga pilar penting, yakni:

1. Sense of Purpose, menjadi paham mengapa kita ada. Big why menjadi perlu sebagai alasan kuat dan menjadi energi terbesar pergerakan. Sense of Purpose memberi ruh dalam setiap tindakan keseharian. Tanpanya,  kita hidup layaknya seperti Zombie, yang hidup tapi tidak hidup, bisa bergerak tapi tanpa jiwa, bisa bertindak tapi tanpa rasa😥😥

2. Shared Value. Porter mengartikan shared value atau nilai bersama dengan “berfokus pada mengidentifikasi dan memperluas hubungan antara kemajuan masyarakat dan ekonomi”. Shared value dianggap konsep ideal yang melibatkan penciptaan nilai ekonomi bersamaan dengan penciptaan nilai bagi masyarakat dengan memenuhi kebutuhan dan mengatasi tantangannya. Creating shared value (CSV) adalah sebuah konsep yang memainkan peran ganda, yaitu menciptakan nilai ekonomi dan nilai sosial secara bersama-sama (shared), tanpa salah satu diutamakan atau dikesampingkan🤗🤗

3. Rules of Engagement. Hal ini juga menjadi pilar yang menantang, bagaimana menyelaraskan setiap kebutuhan dan cita-cita individu dengan organisasinya. Membangun budaya untuk saling berinteraksi dan bagaimana memiliki kesamaan perspepsi hingga cara berpikir yang bermuara pada pencapain goals bersama.

“Leaders of innovation teams are successful when they collaborate, engage in discovery-driven learning, and make integrative decisions”-:Linda Hill –  Collective Genius: The Art and Practice of Leading Innovation.

Menyeimbangkan tiga pilar budaya diatas justru menjadi pilar penting keberlanjutan, menjaganya untuk tetap memberikan ruang belajar, tumbuhnya ambisi-ambisi positif, kolaborasi, tanggung jawab dan proses tumbuhnya para pembelajar sepanjang hayat dan bertransformasi menjadi Collective Genius.

Bagaimana dengan ekosistem kamu, sudah jadi collective genius?🚀🚀

Membangun kultur adalah tantangan yang paling menarik, tak nampak tapi energinya terasa

Membangun kultur adalah tantangan yang paling menarik, tak nampak tapi energinya terasa. Bahkan hal ini kerap terlupakan karena banyak hal-hal visual menggoda lupa fundamentalnya.

Beberapa hari ini beragam komunitas datang berkunjung ke Rumah Kolaborasi kami di Bandung, bertukar pikiran bagaimana sesunggunya membangun kultur yang ideal yang bisa menjadi penopang keberlanjutan organisasi. Ketika berkunjung, kami selalu memulai dengan ucapan selamat datang kemudian bergegas untuk Room Tour. Ada total tujuh ruangan gagasan di rumah ini, setiap ruang memiliki tim dengan kulturnya masing-masing, sesuai dengan DNA setiap startup yang mengisinya. Pendekatan Design Thinking, Scrum dan Agile memang sangat terasa pada setiap bagiannya, namun dikontekstualkan dengan model bisnisnnya masing-masing hingga melahirkan beragam cara baru untuk melakukan aneka ragam pendekatan yang inovatif.

Kultur yang saling beda ini justru menghadirkan ekosistem yang saling melengkapi, menjadi fleksibel dan stabil disaat yang sama. Menyeimbangkan kebutuhan internal dan eksternal diwadah yang sama. Ekosistem ini memberikan ruang kolaboratif untuk melakukan hal-hal bersama, memadukan elemen-elemen internalnya bersinergi secara fleksibel dalam kultur Clan. Disandingkan dengan ruang yang akan banyak mencipta beragam kebaruan, memadukan fleksibilitas dengan kepentingan eksternal dengan melakukan hal-hal baru dalam Adhocracy Culture.

Meski begitu, keragaman ini justru tak menghilangkan keinginan berkompetisi, melakukan hal dengan cepat hingga punya Market Culture yang baik. Walau Clan Culture yang mendominasi rumah ini dengan organisasi yang bersifat network, bukan berarti juga menghilangkan Hierarchical Culture, kontrol untuk melakukan hal-hal dengan tepat masih ada namun lebih agile dengan beberapa pendekatan baru yang modern.

Membangun culture memiliki urgensinya tinggi. Untuk memulainya ada beragam ritual dan mekanismenya, dipetik dalam jangka panjang karena menumbuhkannya memerlukan proses. Karena keberhasilan untuk sukses bukan sekedar berhenti di titik berhasil menjual misalnya, tapi bagaimana memastikan keberlanjutannya. Kapan kita belajar membangun kultur organisasi lagi? Gas!

Digital Transformation adalah perkara Cultural shift!

Perubahan dilakukan diatas perubahan, sebuah ungkapan yang tak lagi bisa dielakkan. Berbeda dengan masa lalu bahwa sering kali kita banyak mempersiapkan segala sesuatunya hingga sempurna kemudian mulai melangkah.

Era perubahan saat ini tak lagi cukup waktu untuk melakukannya secara serial, satu persatu karena momentum perubahan begitu cepat hingga diperlukan strategi berbeda. Apalagi saat ini cara kerja, tata kerja & bagaimana mengelola organisasi menjadi sangat berbeda. Karena model bisnis dan proses bisnisnya sangat jauh berbeda dengan kehadiran teknologi informasi dan digitalisasi yang makin kencang, menjadi sangat penting melakukan proses transformasi budaya.

Digital Transformation adalah perkara Cultural shift, perlu merancang tangga perubahan yang terukur, membuat organisasi menjadi semakin lincah, matang dan pada setiap masanya akan semakin akseleratif. Setiap proejct atau program yang dilakukan idealnya akan membuat organisasi menjadi lebih paham dan lebih baik, selangkah lebih maju pada proses transformasinya.

Cultural shift menghasilkan layaknya gunung es yang membesar, semakin stabil. Semakin baik produk yang dihasilkan, semakin baik pula organisasinya, menyeimbangkan proses yang holistik, bahwa setiap perjalanan project membuahkan proses Cultural shift  semakin baik.

Untuk itu dalam memastikan proses transformasi, pendekatan & kerangka kerja yang digunakan pada setiap project perlu dipastikan relevan dengan zaman, memastikan proses pemberdayaan berjalan. Pendekatan masa lalu yang hierarkis misalnya, tak relevan lagi untuk melakukan Cultural shift karena perubahan tak tersebar pada semua lini organisasi, kunci inovasi hanya berada pada satu titik teratas, pimpinan. Pastikan kerangka kerja yang baik mampu secara perlahan membuat organisasi bergeser dari profit ke purpose, hierarki ke network, controlling ke empowering, planning ke eksperimentasi serta dari privasi ke transparansi.

Cultural shift adl sebuah proses, memulainya sesegera mungkin akan menjadi lebih baik ketimbang selalu merasa percaya diri atas keunggulannya saat ini sedangkan pihak lain berproses membenahinya sedikit demi sedikit, kemudian menemukan momentumnya & melesat🚀🚀

Profesi x Peranan

Bergesernya zaman karena perkembangan teknologi & digitalisasi membuat banyak paradigma & nilai-nilai bergeser.

Beruntung bagi individu yang terpercik perubahan, kemudian ia berangsur meningkatkan kapabilitas adaptasinya & menjaga performanya hingga Ia tak tertinggal dari jaman yang berjalan lebih cepat tiap masanya.

Pergeseran jaman mengakibatkan perubahan kebutuhan individu dalam keseharian/pekerjaannya. Era di masa lalu tiap orang mendamba profesi yang lekat pada dirinya, melakukannya atas dasar kompetensinya. Bekerja.

Masa kini & datang adalah era dimana pentingnya melekatkan keahlian & keilmuan dengan beragam konteks yang berbeda, hingga menjadi kebermanfaatan dalam bentuk yang unik untuk tiap peranan individunya. Karakter penghuni jamannya pun sangat berbeda, mereka bergerak dari kebutuhan sekedar berprofesi ke berperan, berkarya. 

Generasi ini mendamba otonomi, kurang percaya pada otoritas, hidup lebih pragmatis & solution-oriented. Makin muda, makin juga tak suka hal-hal hierarkis, juga banyak menentang norma konvensional yang sudah kadung tumbuh di masa lalu dengan nilai-nilai baru. Mereka lebih mendamba untuk bisa mengkontekstualkan profesi & kompetensinya dengan hal yang Ia suka & jadi bermanfaat bagi sekelilingnya. Berdampak, istilahnya.

Mengapa penting memilih mengambil “Peran” ketimbang hanya berprofesi? Karena peranan sangat identik dengan tersedianya ruang inisiatif yang mendorong terciptanya ruang-ruang eksperimen & kontekstualisasi yang utuh dari pada sekedar menerima instruksi yang mengekang kebebasannya mengaktualisasi kreatifitas yang menjadi gambaran karakter pekerjaan generasi lama.

Dalam peranan, ada ruang tumbuh untuk mendapatkan kebebasan berekspresi yang menjadi hal paling penting. Peranan bukan sekedar memberikan sesuatu yang benar, tapi membawa temuan-temuan baru yang memberikan dampak nyata sesuai zamannya.

“Peranan adalah melekatkan kemapuan keilmuan & manfaatnya pada masyarakat & lingkungan, kemudian meluaskan keterampilannya untuk membawa kemajuan bagi sekeliling” Tiap individu berhak memilih & memformulasikannya sesuai dengan ilmu & passionnya. Bunyamin, dkk 2020

Jangan-jangan ini adalah fenomena gunung es

Menyimak beberapa influencer muda beramai-ramai ditangkap Bareskrim. Kasus para afiliator muda Binary Options yang mencuat belakangan melibatkan anak-anak muda DS, IK juga belakangan ada ADG bukan afiliator, tapi influencer dengan usia 23-26 tahunan yang sesungguhnya mereka ini cerdas, punya keleluasaan mendapatkan akses pada dunia digital sesuai dengan jaman para Gen Z saat ini. Bukan maksud mengeneralisir, hanya saja memang perlu dicermati, jangan-jangan ini adalah fenomena gunung es.

Ketiga orang diatas memang sangat intens di dunia digital, dua diantaranya intens dengan aktivitas finansial digital, ADG yang terakhir menyalah-gunakan keterampilan komunikasi & politiknya di dunia media sosial. Anak-anak muda ini cerdas secara substansi, tapi di era digital ini, tampaknya mereka tak tumbuh dengan nilai-nilai hidup & sosialnya.

Saya jadi berhipotesa, bahwa era digital memang membuat setiap individunya untuk menjadi sangat mudah memiliki akses pada ilmu pengetahuan. Namun sayangnya penumbuhan pengetahuan ini tak memastikan juga membawa serta nilai-nilai hidupnya.

Proses akuisisi pengetahuannya berjalan terus, tapi nilai-nilainya tak terbangun sepanjang proses tumbuh pengetahuannya. Pada akhirnya Ia menumbuhkan pengetahuannya yang terpisah dengan nilai-nilai luhur hidup. Jika kita amati IK, DS & ADG, mengapa dari ketiga orang ini ketika Ia melanggar hukum pun justru merasa tak bersalah? Bahkan bersikeras bahwa Ia tak juga melanggar nilai.

Kasus merasa benar, sah & benar dengan polosnya, terlebih dengan kasus ADG terkini cukup mencengangkan. Bagaimana seseorang cerdas tumbuh menjadi pemfitnah & pengadudomba profesional dengan memanfaatkan media digital & menganggapnya sebuah kelaziman demi uang.


Tantangan era digital ini sejatinya bukan hanya pertanyaannya terkait akuisisi pengetahuannya saja, karena sumber pengetahuan sangat luas dan mudah didapat, tapi bagaimana kemudian kita berstrategi menumbuhkan nilai-nilai dasar kemanusiaan, etika dan empati yang dapat terinternalisasi dengan baik mejadi fundamental hidup manusia yang beradab dalam peradaban di era digital.

Mengapa Sekolah itu Penting?

Seorang kolega bertemu dan berdiskusi tentang mengapa sekolah itu penting. Seperti sudah umum dialami oleh setiap pengajar, terlebih dosen, melanjutkan sekolah ke jenjang tertinggi adalah sebuah kewajiban. Hanya saja setiap individu yang memulainya memang memiliki latar belakang yang berbeda.

Kerap kali ditemui memulai sekolah lagi adalah karena sudah usianya yang mendekati tenggat waktu, atau karena kewajiban yang tak bisa dielakkan, untuk bekal naik pangkat atau agar kemudian bisa mencapai jabatan tertinggi sebagai Guru Besar nantinya. Lalu apa sebenarnya alasan kita melanjutkan sekolah? Sama seperti yang ditanyakan kolega saya diatas?

Tentu Big Why bersekolah penting berupa sesuatu yang positif & membangun energi untuk belajar sepajang prosesnya & kemudian menjadi pembelajar sepanjang hayatnya. Sekolah pada dasarnya bukan saja tentang mendalami ilmu tertentu, tapi juga memberikan pemahaman berpikir yang lebih baik. Kualitas berpkir akan melahirkan kualitas hidup yang lebih baik.

Oleh karena itu, pastikan bahwa keputusan melanjutkannya adalah karena “the healthy urgency”, karena dalam prosesnya bukan tentang bagaimana mengakhirinya dengan cepat. Namun bagaima prosesnya bisa membangun kualitas berpikir yang baik, menjadikan kualitas hidup menjadi lebih baik karena kemampuan menerjemahkan keilmuannya dalam peranan hidupnya masing-masing & memiliki dampak bagi sekeliling.

Dilain pihak, memilih sekolah juga perlu jeli, karena bukan tentang gelar atau akreditasinya saja, tapi apakah lembaganya memiliki nilai-nilai pendidikan yang unggul, apakah menghubungkan dengan ekosistem untuk tumbuh kembang bersama, apakah terbuka dengan beragam perubahan, apakah dipastikan ketika lulus kelak jadi individu dengan memiliki kualitas berpkir lebih baik serta keleluasaan akses pada ekosistem yang sehat?

Apakah kemudian kita bertransformasi menjadi individu yang memaknai setiap proses belajar adalah untaian aktifitas yang mindful? Idealnya, gelar yang didapat tercermin dari sikap hidupnya sehari-hari.

Sekolah yang baik memberikan kita wadah bertransformasi dengan memperbesar peluang untuk memiliki kualitas hidup baik dari hasil pemikiran berkualitas. Bgmn dengan kamu?

Proses Transformasi yang Tepat bagi Organisasi yang Mendambakan Proses Inovatif yang Baik

Berdiskusi seru lintas generasi.
Kali ini membawa anak-anak muda penuh talenta bergagasan bersama dengan para leaders di Pasca Sarjana Unpad. Kawan-kawan muda ini sengaja saya bawa dan mengakanya berdiskusi dan bergagasan bagaiman cara saat ini yang tepat mengupayakan proses transformasi yang tepat bagi organisasi yang mendambakan proses inovatif yang baik dan membawa organisasinya melesat dan terjaga keberlanjutannya.

Kreativitas sering kali kita identikan dengan produk kreatif yang kerap muncul hilir mudik di depan mata kepala kita sendiri. Namun yang sering dilupakan justru dibalik sebuah produk kreatif, ada upaya inovatif yang kasat mata, yakni membangun perilaku, budaya dan organisasinya. Kami lebih senang bilang sebagai membangun model bisnis & mengimplementasikan proses bisnisnya yang melesatkan organisasinya lebih tinggi.

Merancang model bisnis, yang sering kali hanya dipahami sebagai 9 kotak sederhana, justru pada kenyataannya membutuhkan kreatifitas ekstra, apalagi membumikannya dalam kehidupan nyata dalam proses bisnisnya, perlu persistensi. Kreatifitas menjadi ujung tombak penting dalam melakukan proses perubahan, apalagi terkait budaya, perilaku yang semua bermula dari pola pikir maju yang perlu disemai perlahan-lahan. Meskipun kita paham, dalam kenyatyaannya menyemai cara pandang baru perlu waktu dengan persistensi kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Persistensi juga perlu strategi menerapkannya, terukur pula seberapa jauh langkah sudah terwujud menuju visi, seberapa besar kapabilitas dan kapasitas kita tumbuh, dan seberapa cepat kita melangkah serta seberapa baikkah kita beradaptasi.

Terimakasih kawan-kawan SPS Unpad, dengan sesi berbaginya bagaimana membumikan proses perubahan yang inovatif, hingga tangga perubahan menjadi makin tampak membuncahkan optimisme untuk menghadirkan mimpi terbaik🎉🎉

“Sepakat Membangun Ekosistem!”

Salah satu titik kritis transformasi digital adalah bagaimana kita memaknai bahwa yang perlu dirancang bukan hanya semata-mata model bisnis, tapi juga upaya dalam merancang ekosistem bisnis, memetakan, menginisiasi, menghubungkan, menguatkan keterhubungan kepingan puzzlenya & melompat bersama melalui kesamaan visinya.

Hari ini kami di Malang, kali ini The Local Enablers bersama SEAL.ID bersama-sama beberapa komunitas  memulai inisiasi merajut kolaborasi. Hadir disini menjadi learning partner memahami karakter era digital yang sering kali salah memaknainya. 

Sebuah kalimat tercetus hari ini, “Sepakat membangun ekosistem!” Seringkali terlupakan bahwa ekosistem adalah pilar paling penting yang bisa membantu sebuah pergerakan terjaga keberlanjutannya. Karena simpulnya saling terhubung, saling keterkaitan dan membawa pengaruh untuk saling memajukan maka Ia tidak akan tergantung secara khusus pada seseorang sosok atau organisasi yang superior. Membangun ekosistem walau penting, tapi justru hal ini pula yang sering terlupakan, karena kita fokus membangun diri sendiri dengan menggunakan model bisnisnya masing-masing kemudian terjun dalam pertempuran.

Apalagi di era digital, membangun keterhubungan adalah pilar kekuatan yang tak bisa dielakkan.  Merancang bagaimana sebuah ekosistem dirancang adalah strategi penting memastikan keberlanjutan.  Beberapa  jenis ekosistem yang penting untuk dirajut antara lain;

1. Ekosistem Bisnis, kolaborasi yang ditujukan untuk membuat fokus dalam penciptaan nilai di mata konsumen.

2. Ekosistem Inovasi. Pilar penting dimana kita perlu menginvestasikan waktu, pikiran & sumber daya bersama mengintegrasikan eksplorasi pengetahuan serta eksploitasi ekosistem bisnis. 

3. Ekosistem Pengetahuan. Ini menjadi penting, ketika kita terhubung dengan pihak-pihal yang juga fokus dalam menghasilkan kebaruan-kebaruan pengetahuan dan teknologi.


Tak semata-mata berdiri sendiri, maka usaha akan kuat jika bersama-sama merangkul ekosistemnya. Memiliki kekuatan lompatan yang kuat jika terhubung dengan pelaku inovasinya, serta senantiasa menjadi inisiatif yang terjaga keberlanjutannya jika memastikan kita juga terhubung dengan ekosistem pengetahuannya.

Bagaimana Bikin Tim yang Minimal Tapi Gesit?

Sebenernya bikin tim nggak terlalu sulit. Bikin yang lincah karena Ia kecil, lean tapi powerful. Tentang tim sebenarnya ada konsep MVT (Minimum Viable Team)  dimana kondisi tim minimum perlu terdiri dari apa aja?

Hustler, punya kemampuan networking yang luas dan bisa jualan!
Hipster Biasanya dia punya kelebihan dalam hal kreatif! 
Hacker, orang yang inovatif dan akrab dengan teknologi

Nah di Indonesia sebenarnya konsep tim ini sudah ada lama sekali. Kalo kamu kenal dengan tokoh-tokoh pewayangan Jawa, ada tokoh-tokoh terkenal dalam satu kelompok bernama Punakawan.
Punakawan adalah penjelmaan dewa yang terdiri atas Semar dan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Kelompok ini dikenal sebagai penasihat spiritual, teman bercengkrama, dan penghibur di kala susah yang bertugas mengajak para ksatria asuhannya untuk selalu berbuat kebaikan.

Nah kalo dihubungkan dengan kekuatan tim, ini sangat cocok, apalagi dengan para pelaku startup yang ingin timnya lean dan cross functional! Nah yang menarik dari Punakawan ini berasal dari kata “pana” yang artinya paham &  kawan yang artinya “teman”. 

Peranan masing-masing bisa breakdown seperti
1. Semar, erat dengan leadership. Ia berperan sebagai pemimpin yang hadir dengan kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika mengalami kebahagiaan 

2. Nala Gareng,  Entrepreneur. Ia hadir seperti hustler, walau ia hadir dengan ketidaklengkapan bagian tubuh, mengalami cacat kaki, cacat tangan, dan mata.

3. Petruk , layaknya Hacker, ia selalu hadir dengan Inovasi. Ia selalu konsisten mencari kebaruan, berpikir panjang dan konsisten.

4. Bagong, Ia layaknya seperti Hipster yang kreativitas. Kreatifitasnya hadir karena kesederhanaannya, sabar, tapi tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia, selalu retrospektif dan belajar dari bayangan dirinya sendiri dan memperbaiki dirinya.

Jadi gimana tim kamu, sudah lengkap belum komposisinya?

Tim akan selalu jadi syarat utama sebuah bisnis melompat!

Dari sekian banyak pengalaman kerjasama dengan beragam tim selama ini, memang selalu ada tim yang hebat dibalik setiap kesuksesan bisnis baru yang Ia jalankan. Jika kita akrab dengan startup atau organisasi modern, biasanya tim pendirinya akan menjadi perekat bagi seluruh bagian yang terlibat didalamnya.

Begitu pula jika kamu bekerja dalam sebuah korporasi, tentunya masih memerlukan tim yang solid untuk mencipta beragam produk-produk baru atau inovasinya. Ini juga berlaku jika kamu seorang Gig Enthusiast! Dimana kamu bergerak kesana kemari sebagai individu yang kemudian melekatkan diri kamu pada ekosistem dimana kamu terlibat didalamnya dalam mengerjakan sesuatu produk/projectnya. Tim akan selalu jadi syarat utama sebuah bisnis melompat!

Ada satu hal penting dalam tim yang hebat, yakni Cross Functional! jika kamu punya tim yang lintas fungsional/keterampilan/kompetensinya maka kamu memiliki probabilitas yang baik untuk menghasilkan produk yang terencana, tercipta dari hasil pembelajaran pada pelanggannya.

Tim lintas fungsi ini bisanya terdiri dari tiga keterampilan dasar, yakni desain, produk dan rekayasa teknik. Jika tim kamu tak punya salah satu dari hal tsb, maka yang diperlukan adalah akses pada sumber keterampilan, kolaborasi atau menggunakan alat bantu dengan basis teknologi.

Tim yang beragam adalah kekayaan, akan mendatangkan perspektif yang kaya dalam bergagasan yang jadi dasar utama inovasi. Trus bagaimana bikin tim yang oke? Jangan lupa sebagaimanapun hebatnya tim kamu, hal yang perlu dikuatkan adalah 1) Bertindak atas dasar data, 2) Lakukan eskperiman, perkaya pengalaman, 3) User Centric, validasi keinginan pengguna, 4) Entrerpreneurial mindset & Skills, bersolusilah dengan cepat, 5) Iterasi, iterasi iterasi!, 6) Validasi asumsi.

Melatih tim dalam kerangka kerja akan jadi wadah baik karena makin lama tim kamu makin hebat!