Tapi jangan salah, menjadi Agile juga tidak menjadikan kita chaos

Era VUCA atau BANI, satu kata yang menggambarkannya “Ruwet”. Kata ini muncul dalam diskusi kami kemarin, hingga era ini memang sangat fundamental untuk memahaminya dengan cara berpikir yang baru dan relevan terhadap perkembangan yang serba cepat. Berubah menjadi ruwet ya memang karena konstelasi proses, sistem dan mekanisme menjadi baru yang tak bisa dipahami dengan paradigma tradisional.

Menjadi Agile, sebuah terminonologi yang sedang sering terkemukakan, namun memaknainya memang menantang. Apalagi jika populasi masyarakatnya mayoritas masih terkungkung dalam pola pikir tradisional yang menuntut berbagai kejelasan pada setiap langkah yang Ia ingin jalankan. Hal ini timbul karena memang Ia terbiasa dengan proses bisnis lama dan mendarah daging dalam kehidupannya dan membentuk pola pikirnya saat ini.

Era dimasa pandemik melandai ini juga menjadi penanda makin jelasnya sesuatu yang unclear atau tak jelas semakin banyak ditemui diberbagai ruang kehidupan, hingga hal ini membawa pada prasyarat yang juga tak jelas. Sementara masyarakat masih nyaman dengan sesuatu hal yang pasti dan jelas.

Menjadi Agile, tak lagi membawa pada hal-hal yang pasti dan jelas yang dapat dideskripsikan. Tapi jangan salah, menjadi Agile juga tidak menjadikan kita Chaos. Mengupayakannya untuk mengeksplorasi ruang antara clear dan unclear, antara simple dan chaotic, antara kompleksitas dan simplisitas. Memastikan outcomes dan dampaknya terwujud.

Dalam mencapai tujuan, maka ada upaya yang kompleks & unik dimana tak ada satu ukuran yang cocok untuk semua pendekatan, hingga dalam menyelesaikannya kita perlu menyesuaikan metodologi pada setiap tujuan yang berbeda.

Coba petakan permasalahan dan kondisinya, matriks Stacey ini mungkin bisa membantu kamu dimana kita menggunakan pendekatan Agile atau Waterfall. Petakan lagi kondisi, prasayarat dan kaitannya dengan teknologi. Ada dimana mereka. Agile memang berada pada kompleks, maka jalan bersolusinya adalah dengan ko-kreasi, bergagasan yang kolaboratif, visioning, eksplorasi, pengembangan yang iteratif hingga knowledge management.

Bereksplorasilah hingga kamu lebih dekat dengan tujuan!

Creative Confidence

Sebuah buku bertajuk dua kata di atas menggambarkan bagaimana sebuah proses kreatif menumbuhkan “creative muscle” yang kuat untuk mendorong sebuah perubahan yang besar.

Terdapat delapan langkah bagaimana kita bermula untuk bergeser agar creative confindece membesar dan menguat;

1.Flip!
menjadi empati
(From Design Thinking to Creative Confidence)

2.Courage!
Mebangun Keberanian
(From Fear to Courage)⁣
Dari banyak gagal jadi berani

3.Spark!
Menggali Insight
(From Blank page to Insight)⁣

4.Leap!
Aksi!
(From Planning to Action)⁣

5.Seek!
Passionate!
(From Duty to Passion)⁣

6.Team!
Membangun Tin
(Creatively Confident Groups)⁣

7.Move!
Bergerak
(Creative Confidence to Go)⁣

8.Next!
Berlanjut.
(Embrace Creative Confidence)⁣

Menjadi kreatif selalu bermula dari cara berpikir dan kayanya imajinasi. Itu mengapa setiap perubahan yang terencana menjadi penting bermula dari mindset kemudian menuangkannya dengan pedekatan-pendekatan baru yang kontekstual.

Manajemen perubahan versi Tom dan David Kelley ini memang menarik, delapan langkah tadi jadi penting untuk menggabungkan kreativitas dan inovasi menjadi otot-otot perubahan. Kreativitas bukan semata-mata produk, namun lebih dalam adalah pola pikir, cara berpikir serta pendekatan yang proaktif menemukan solusi-solusi baru.

Saya pribadi bukanlah seniman, dan juga mungkin sebagian besar pembaca caption ini. Namun, tentu kita bisa menjadi lebih kreatif dalam peranan-peranan dan profesi kita. Sebuah Creative Confidence, atau Kepercaya-dirian atas kreatifitas akan memberikan pembeda dalam setiap langkah pergerakan, usaha atau bahkan karir kita.

Seperti halnya balon-balon biru ini, walau sederhana, namun jadi pembeda yang besar. Begitu juga kreatifitas, hal-hal kecil yang sederhanalah yang justru membawa banyak pembeda yang perlu digali hingga mendatanglan banyak kebaruan. Apalagi kita kita berkelompok, tentunya creative muscle kita akan semakin kaya, untuk melompat lebih jauh!

Selamat berkarya tim Komite Penataan dan Ekonomi Kreatif Kota Bandung🚀

Digital Transformation adalah perkara Cultural shift!

Perubahan dilakukan diatas perubahan, sebuah ungkapan yang tak lagi bisa dielakkan. Berbeda dengan masa lalu bahwa sering kali kita banyak mempersiapkan segala sesuatunya hingga sempurna kemudian mulai melangkah.

Era perubahan saat ini tak lagi cukup waktu untuk melakukannya secara serial, satu persatu karena momentum perubahan begitu cepat hingga diperlukan strategi berbeda. Apalagi saat ini cara kerja, tata kerja & bagaimana mengelola organisasi menjadi sangat berbeda. Karena model bisnis dan proses bisnisnya sangat jauh berbeda dengan kehadiran teknologi informasi dan digitalisasi yang makin kencang, menjadi sangat penting melakukan proses transformasi budaya.

Digital Transformation adalah perkara Cultural shift, perlu merancang tangga perubahan yang terukur, membuat organisasi menjadi semakin lincah, matang dan pada setiap masanya akan semakin akseleratif. Setiap proejct atau program yang dilakukan idealnya akan membuat organisasi menjadi lebih paham dan lebih baik, selangkah lebih maju pada proses transformasinya.

Cultural shift menghasilkan layaknya gunung es yang membesar, semakin stabil. Semakin baik produk yang dihasilkan, semakin baik pula organisasinya, menyeimbangkan proses yang holistik, bahwa setiap perjalanan project membuahkan proses Cultural shift  semakin baik.

Untuk itu dalam memastikan proses transformasi, pendekatan & kerangka kerja yang digunakan pada setiap project perlu dipastikan relevan dengan zaman, memastikan proses pemberdayaan berjalan. Pendekatan masa lalu yang hierarkis misalnya, tak relevan lagi untuk melakukan Cultural shift karena perubahan tak tersebar pada semua lini organisasi, kunci inovasi hanya berada pada satu titik teratas, pimpinan. Pastikan kerangka kerja yang baik mampu secara perlahan membuat organisasi bergeser dari profit ke purpose, hierarki ke network, controlling ke empowering, planning ke eksperimentasi serta dari privasi ke transparansi.

Cultural shift adl sebuah proses, memulainya sesegera mungkin akan menjadi lebih baik ketimbang selalu merasa percaya diri atas keunggulannya saat ini sedangkan pihak lain berproses membenahinya sedikit demi sedikit, kemudian menemukan momentumnya & melesat🚀🚀

Banyak kegagalan justru jadi modal mahal menjadikan “creative muscle” makin bersar

Melesatkan kembali kapal oleng adalah pembelajaran mahal, namun prosesnya memunculkan banyak hal baru yang justru semakin dicintai karena prosesnya membuahkan banyak hal yang beyond! Banyak kegagalan justru jadi modal mahal menjadikan “creative muscle” makin bersar.

Perjalanan bersama tim menuju Jakarta hari ini mengemukakan dinamika dalam sebuah organisasi adalah hal penting. Justru jika organisasi terasa dingin dan senyap bisa jadi Ia dalam keadaan genting, karena tak ada lagi yang perlu digagas dan dituju. Hipotesa yang menarik!

Dalam perjalanan membuahkan kebaruan kegagalan-kegagalan sudah pasti perlu dilewati, menjadikannya lesson learn berharga. Lihat saja usaha sekelas Google, begitu banyak kegagalan sebelum sebuah produk meluncur sukses. Hanya saja aktivitas mencari kesalahan itu mereka namai sebagai eksperimen.

Eksperimen tak mencari keberhasilan, juga tak mencari keberhasilan, Ia menuntun pada sesuatu yang baru, persistensi pengulangannya membuat hal menjadi beyond & luar biasa!

Eksperimen yang semakin terpola, mengarahkan pada “creative confidence” yang membesar. Jadi teringat kisah Thomas Alva Edison yang diundang berbicara dalam pertemuan para ilmuwan & bangsawan Inggirs, ia mendapat sindiran;

“Hai Thomas ku dengar engkau gagal sampai 1448 kali dalam mengadakan uji coba menemukan bola lampu listrik ya?” Tanya seorang bangsawan

“Tuan maaf saya tak pernah gagal ,saya hanya menemukan cara yang tak bisa menbuat bola lampu menyala lewat listrik sebanyak 1448 kali & hingga kali ke 1449 kali saya temukan cara untuk menyalakan bola lampu dengan listrik”

Dalam konsep inovasi, Alex Osterwalder menjelaskan untuk mendapatkan satu inovasi, ada explorasi yang intens dilakukan dibaliknya dalam jumlah yanh banyak. Bukan gagal, tapi eksperimen yang mendatangkan pembelajaran hingga hadir kesempurnaan inovasi yang semakin baik dan semakin baik lagi. Proses ini tak akan berakhir, ujungnya adalah keberlanjutan yang terpelihara.

Selamat bereksplorasi!

Waktunya beralih dari Egosystem ke Ecosystem!

Salah satu pilar terpenting dalam proses transformasi digital adalah ekosistem dan interaksinya, setelah sebelumnya adalah perubahan cara berpikir dari produk sentris ke user sentris, organisasi yang hierarkis ke organisasi network yang agile.

Jika dulu kita berupaya sedemikian rupa membangun model bisnis dengan segala keunggulannya, justru saat ini kita perlu tau bagaimana sebenarnya kepingan puzzle kita berbentuk, dan layak mencari yang seperti apakah pasangan yang pas untuk mengelaborasinya. Ekosistem! Tentu berbeda dengan Egosistem.

Membentuk ekosistem secara ideal memang mudah terucap, namun sejatinya idealismenya akan terlihat dari bagaimana Ia berinteraksi, bagaimana Ia melakukan perbaikan komunikasinya secara terus menerus, melakukan perbaikan bentuk kolaborasinya, menyempurnakan bentuk puzzlenya untuk menjadi klop satu sama lainya.

Untuk kapitalis besar, memang begitu mudah Ia mengucurkan modal dan membentuk ekosistemnya sendiri, namun buat kamu yang kecil, justru ini keunggulan kamu melakukan kolaborasi yang lebih fluid.

Organisasi-organisasi yang lean akan lebih fleksibel membentuk ekosistem, bersama-sama menciptakan ekosistem yang dinamis, beda dengan kapitalis besar walau mereka bisa membentuk ekosistem yang lengkap, belum tentu mereka bisa dinamis mereka justru kerap terjebak dengan rigiditas ekosistemnya.

Masih ingat dengan rumus P=MxV, Kekuatan gerak dikali dengan kecepatan akan melahirkan momentum yang besar. Maka tak usah ragu jika kecil, karena kecil kita bisa bergerak cepat dan membuat momentum yang besar, apalagi jika pergerakan ini berbondong-bondong dan banyak dalam sebuah ekosistem, hasilnya akan menjadi kekuatan yang sangat besar!

Waktunya beralih dari Egosystem ke Ecosystem!

“Collaboration is about so much more than a tool for achieving business goals or personal dreams. Collaboration is about compassion, love, support, kindness, and the power that we gain when we share with each other and lean on each other”

Purpose beyond Profit

Pernyataan yang sedang banyak bermunculan, terlebih dunia memasuki era dimana permasalahan sosial memuncak. PwC menunjukkan 79% pemimpin bisnis percaya bahwa purpose adalah pusat dari kesuksesan, tapi 68%nya menyatakan bahwa dalam perjalanannya tak digunakan jadi panduan pengambilan keputusan organisasinya. Era ini juga punya koneksi kuat dengan purpose, kemungkinannya 5,3 kali lebih besar untuk bertahan. Tapi sebagian besar karyawan tidak memahaminya, hanya 33% yang benar-benar paham purposenya. Dari sisi konsumen, justru dipandang bahwa mereka yang didorong purpose akan lebih loyal pada produk & usaha mereka.

Dari tulisannya C. Bulgarella, 2018 Ia mencontohkan 2 perusahaan jam tangan dengan 2 jenis purpose: Linear Vs.Transformatif

A; Membantu untuk tepat waktu.
B; Membantu mencapai kehidupan yang lebih seimbang

Purpose ke-1 mendorong mengembangkan aset teknis & membantu mencapai pertumbuhan linier, sedangkan kasus ke-2 tidak hanya memperdalam makna perusahaannya, tapi juga memperluas struktur hubungan, cakupan produk & dampak yang dapat ditimbulkannya pada kehidupan pelanggannya. Purpose adalah cerminan asli bagaimana perusahaan bermaksud untuk berkembang & mendorongnya mengatasi inkonsistensi & kesenjangan dalam budayanya sendiri.

Purpose diperlukan bukan lagi ditujukan bagi kemajuan linier/horizontal (bagaimana bisa maju & lebih baik daripada apa yang dilakukan hari ini?) Tapi, hal ini jadi satu transformasi evolusioner (pertumbuhan evolusioner/ke atas), yakni “Bagaimana apa yang dilakukan hari ini membantu kita memanfaatkan potensi transformatif & memberikan lompatan perubahan dari hari ini”

Purpose otentik perlu kedewasaan lebih tinggi. Frederic Laloux dalam bukunya “Reinventing Organizations”, menulis pertanyaan kunci ketika organisasi/individu naik skala kesadarannya Ia bertanya “Apakah saya jujur pada diri sendiri & sejalan dengan panggilan yang dirasakan?” Ini bukan hanya tentang kebenaran lahiriah, tapi kebenaran batiniah.

Bukan pertanyaan mudah memang, itulah sebabnya kesadaran adalah batu loncatan utama bagi organisasi yang ingin memanfaatkan kualitas Purpose yang transformatif.

Goals Manajemen OKRs

Kumpul lagi bareng tim yang lama tak bersua, menata lagi mimpi yang dulu pernah terselubung pandemik. Belajar juga langsung dari @chocodot.official @akanggumelar


Ngga semudah membaca buku Goals Manajemen OKRs, dalam praktekknya banyak liku-liku menularkan kemampuan yang konsisten dalam mencapai sebuah tujuan organisasi. Sharing hari ini bersama tim bukan hanya menurunkan aspek pertama dalam OKRs yakni tapi belajar banyak tentang tahapannya, nilai, prinsip dan elemen dasarnya. Jadi tadi kami membahas apa aja? ⁣


1)To -dos. ⁣
To-dos meliputi tahapan yang dimulai dengan merancang Key Result, Objectives & Interim Goals dalam mencapai Visi. Merumuskannya saja perlu waktu, karena dalam proses “internalisasinya” justru jadi tantangan.⁣

2)Motivasi intrinsik. ⁣
Tantangan berikutnya, membangkitkan motivasi intrinsik. Nilai dasar yang ditumbuhkan dalam tim. Kami biasa menyebutnya dengan menegaskan kembali tujuan dengan langkah yang jelas “Clarity” , terdiri dari 1) Penyelarasan, dimulai dengan kalimat “bentar dulu!, kayaknya kita menjauh dari goals nih!” atau dengan pernyataan lain yang terukur dari progres pencapaian 2) Transparansi, ini jadi penting mengingat keterbukaan jadi unsur penting memastikan kita berjalan selaras. 3) Engagement, ini juga jadi tantangan! biasanya kita jawab sambil makan-makan :)⁣

3)Self-organized Teams⁣
Membangun fokus menjadi tantangan tersendiri. Mau tidak mau individu & timnya dilatih untuk menjadi Agile!, lebih dari itu budaya Continuous Improvement dibumikan sungguh-sungguh jadi tantangan karena kerap lupa mengevaluasi apa yang sudah terjadi. Pertemuan-pertemuan kecil untuk iterasi juga penting, karena banyak individu kerap silo dalam kerjanya. Prinsip-prinsip ini menjadi pilar penting untuk juga ditumbuhkan.⁣

4)Pertemuan Mingguan⁣
Elemen penting ini dilakukan untuk mereview, perencanaan, retrospektif & list selanjutnya hingga kita paham kita berada di jalur yang benar menuju tujuan kita. ⁣

Jadi gimana? Bukan cuma tools terkait mengukur progresnya saja ya, tapi juga belajar bersamaan bagaimaman menginternalisasi nilai dasarnya, prinsip serta elemen-elemennya. Perjalanan panjang sebuah organisasi inovatif!

Dual-Track Agile

Dual-Track Agile apa lagi itu?🤣🎉
Ini adalah jenis pengembangan Agile di mana tim produk yang cross functional membagi pekerjaan hariannya menjadi 2 jalur: 1) discovery & 2) delivery.

📌Discovery fokus pada ide yang divalidasi cepat sesuai backlog,

📌Delivery fokus pada mengubah ide-ide tsb menjadi perangkat yang siap pasar.

Metodologi ini dibangun berdasarkan filosofi bahwa pekerjaan dalam mengembangkan produk dapat berlangsung cepat, berulang & berdasarkan data akan menghasilkan produk yang lebih baik.

Tim secara teratur berkolaborasi & nonlinier bekerja bersama selama proses. Membuat pembaruan kecil & merilis produk ke pasar secepat mungkin & belajar dari basis pengguna, apa yang berhasil & apa yang tidak.

Pengembangan produk perlu berulang & siklis, bukan linier & memperluasnya bahkan ke langkah sementara dalam pekerjaan tim, bahkan sering kali membiarkan alur kerja mereka menjadi “mini waterfall.

Dalam konteks sprint yang Agile, manajer produk membuat serangkaian persyaratan dan menyerahkannya kepada seorang desainer, kemudian membuat gambar rangka / prototipe, dan meneruskannya ke tim pengembang.

Nah, ini masih merupakan proses yang agak linier. Sebaliknya, Dual-Track Agile, “menangkap sifat paralel Discovery & Delivery” yang memungkinkan untuk terjadi bersamaan & dengan banyak kolaborasi tim. Itu tidak mengharuskan Tim Discovery sepenuhnya mendefinisikan semua item tim pengiriman dapat memulai pekerjaan pengembangannya.

Mengapa Dual-Track Agile? Metodologi ini dapat menawarkan;

1. Produk yang lebih baik
Mendorong tim hanya mengizinkan ide produk yang divalidasi ke dalam backlog mereka.

2. Lebih sedikit waktu yang terbuang
Membagi pekerjaan tim lintas fungsi dalam dua jalur paralel—satu yang dikhususkan hanya untuk penemuan, atau memvalidasi item sebelum mereka masuk ke backlog—berarti tim lebih mungkin untuk mendapatkan item yang benar dengan pengguna dalam iterasi pertama, daripada harus bolak-balik berulang.

3. Menurunkan biaya pengembangan secara keseluruhan.

Dual-Track Agile membantu organisasi fokus pada jenis inovasi yang tepat & mengirimkan produk yang benar-benar akan dibayar pengguna.

Selamat belajar lagi!🎉🎉

Networked Civilization?

Melaksanakan serba daring, mendadak online, hingga lupa membangun esesnsi dasarnya bisa jadi sebuah hal yang tak baik bagi keberlanjutan. Bertemu para sesepuh media beberapa waktu lalu, juga dengan beberapa kawan pendidik yang banyak bercerita bahwa model bisnisnya baru saja meng-online-kan aktivitasnya, tidak secara fundamental mengalihkannya secara daring.

Cara kerja memang sudah total berubah, sebagian besar individunya sudah kadung menikmati perubahan ini. tapi belum banyak juga individu atau usaha dan atau institusinya yang siap, terlebih jika ada “Generation Gap” disana. Transformasi digital memang bukan sekedar peralatan baru dengan penggunaan tekonologi digital semata. Ada beberapa tantangan terberat dalam proses transformasinya, budaya! 60% institusi memandang budaya organisasinya menghambat proses ini (Capgemini, 2020) ini di negara maju loh yaa, bayangkan di negara kita.

Untuk upaya-upaya kita, mencetak keberhasilan transformasi digital memang yang paling menantang adalah “putting digital front of mind” ketika merencanakan dan merancang bagaimana kita dapat mengakses produk dan layanan. Ini tidak berarti meninggalkan saluran-saluran tradisional yaa, tetapi menyadari bahwa saluran itu tidak akan lagi jadi saluran utama bagi orang-orang yang terhubung dengan kita.

Ada satu hal menarik, kata Lewie Allen, seorang Technologist” “Customers are able to trust you more as an organisation if you are open about the idea that you are building something that is ever changing and that you require and want their input in making it better for them,”

Beda sekali dengan prinsip masa lalu, hingga pola interaksi justru akan meningkatkan proses inovasi, jauh dari silo dan ketertutupan. Kalo dari pengalaman-pengalaman lalu, memang hal ini jadi tantangan meng-empower anggota tim untuk berkomunikasi lebih intensif satu sama lain, terlebih dengan klien. Beberapa hal yang penting segera berlatih agar kita sungguh-sungguh bertransformasi apalagi tibalah kita sudah di era Networked Civilization, walau kerap banyak organisasi masih terjebak di Industrial Revolution:)

Yuk kita lompat lagi! #agilitytransformation

1 Menit Pitching

Beberapa hari ini kami kerap mengajarkan kawan‑kawan startup & UKM berlatih berjualan efektif agar jualan laku jika menawarkannya. Banyak diantaranya masih takut, asumtif bahkan tak berani membuka pembicaraan

Hasilnya pun sudah pasti dagangannya tak terjual. Bagaimana mau terjual, membuka komunikasi pun sulit, belum lagi komunikasinya yang panjang membuat calon client tak menanggapinya, bahkan di masa normal sekali pun

Tidak setiap kali di masa normal kita berkesempatan bagus & panjang bertemu dengan orang penting & menemukan momentum menginformasikan hal esensial. ⁣

Karena jika di kampus sering kali belajar presentasi panjang lebar karena keleluasaan waktu, tidak sama halnya didunia nyata, sering kali hanya punya waktu singkat menerangkannya, sangat singkat bahkan!!

Nah mumpung lagi banyak waktu di rumah, ada bahan buat latihan komunikasi singkat nih! Jika suatu hari bertemu beberapa orang yang potensial membuka upaya kolaborasi atau bahkan berinvestasi.⁣

Beberapa hal yang perlu dilakukan atara lain, membuka keberanian menyapa & lakukan pitch singkat, jangan lebih dari satu menit. Dilatih yaa, mulai dengan berlatih One Minute Pitch!⁣

Dimulai dengan menerangkan bahwa ⁣

1) Usaha kamu bernama……sedang mengembangkan….untuk membantu siapa menghadirlan gagasan solusi terhadap apa dengan “uniqe value proposition” apa?⁣

2)Berusaha pada bidang….yang tahun lalu bernilai…. ⁣

3)Jika melihat pasar mungkin mirip dengan X dan Y hanya saja memiliki diferensiasi berupa …. ⁣

4)Saat ini memiliki (Produk, Tim atau Usaha yang…..) ⁣

5)Untuk itu kami mencari……..untuk membantu usaha berkembang, oleh karena itu kami bermaskud untuk.. ⁣

Template di atas hanya satu dari sekian banyak cara berlatih bagaimana kita bisa menyampaikan pesan dengan singkat, padat dalam kesempatan yang sempit. ⁣

Ada juga bentuk lain, misalnya kita perlu berlatih membuat Pitch Deck yang bagus, biasaya durasinya 5 hingga 10 menit, atau membuat Rencana Bisnis tapi tidak dengan puluhan lembar seperti layaknya proposal. Cukup satu lembar ukuran A4 kita menuliskan singkat rencana bisnis agar calon mitra paham dulu tentang apa yang dimaksud.⁣

Selamat berlatih ya!