Era Vuca atau Bani saat ini saat banyak keadaan makin cepat, tak jelas, kompleks dan ambigu. Jadi belajar banyak di era pandemik ini saat perubahan dilakukan diatas perubahan menjadi kebiasaan baru. Beberapa hal juga berubah, cara bekerja dan segala sesuatu terkaitnya berubah total. Coba deh DURT, frameworknya Jon Mertz di tahun 2014.
Direct, Understandable, Reliable, and Trustworthy

Be Direct.
Langsung dan berterusterang dalam situasi yang kompleks menjadi cara yang ampuh untuk memberikan penyelesaian yang lebih cepat dalam situasi yang kompleks. Informasi dalam komunikasi yang transparan serta membangun mutual trust / rasa saling percaya dan membagun upaya yang kolaboratif. Ingat kata kuncinya, transparan, saling percaya dan upaya kolaboratif. Semuanya yaa bukan satu-satu 🙂

Be Understandable
Situasi yang ambigu, memang sangat banyak dimungkinkan untuk terjadi saat ini dan kedepan. Menjadi jelas itu adalah sesuatu yang penting, namun bukan jelas caranya ya, tapi jelas tujuanya, jelas purposenya. Karena cara justru senantiasa berubah, hingga dimungkinkan membuka inisiatif dengan cara-cara baru. Kejelasan akan purpose, arah, peran dan tanggung jawab akan memberdayakan setiap indvidu didalamya.
JIka tak paham, ruang gagasan yang frekwentif menjadi wadah baik mematangkan tim dengan pemahaman-pemahaman baru yang kompleks.

Be Reliable
Era yang serba cepat, menjadi reliable adalah sebuah tantangan lain. Ikuti sesuatu yang dikatakan dan disepakati, pegang nilai-nilai dasarnya akan mempercepat momentum positf untuk tumbuh. Situasi cepat menghadirkan kesempatan untuk belajar banyak, belajar banyak artinya mengalami kegagalan yang banyak pula yaa! Hanya jangan gagal pada lubang yang sama, kesalahanpun bisa belajar dari orang lain 🙂

Be Trustworthy
Dapat dipercaya di era yang tak jelas adalah hal penting. Bersandar pada nilai-nilai yang disepakati. Investasi pada manusia, memelihara tim agar tetap enggaged berpadu dan kompak, melibatkan mitra dan tetap mau belajar untuk mau memahami hal-hal baru hingga bertindak dengan tindakan yang saling menghargai.

Selamat mengarungi dunia yang lebih dinamis!

Kolaborasi gila ini banyak dilakukan, kapan nih kita mulai?

Paradigma baru di era digital memang kerap kali membawa pada beragam kejutan yang luar biasa. Salah-satunya adalah semakin beragamnya bentuk-bentuk kolaborasi yang tumbuh, karena diera ini keterhubungan menjadi aspek paling berpengaruh terhadap sesuatu yang sebelumnya belum bisa terjadi.

Sifat dan kemampuan kolaborasi semakin menjadi-menjadi. Teknologi media sosial serta kecanggihan desain yang semakin tinggi ketika Ia dapat menarasikan secara tepat apa yang dibayangkan yang semula masih ide-ide dikepala, tersampaikan gagasannya pada banyak orang secara baik tervisualiasikan serta tersampaikan masif dengan media digital ke banyak pihak. Menyebabkan ide-ide gila yang sebelumnya sulit dinampakkan, digambarkan dan diwujudkan jadi lebih mudah terealisasikan!

Kolaborasi dulu hanya sebatas dua dimensi, menggabungkan satu dengan yang lainnya yang berada dalam satu dimensi yang sama, misal; satu dua produk yang saling komplementer, satu dua organisasi yang saling melengkapi dalam rantai nilai atau pasoknya, atau satu atau dua hal yang secara logika tradisional tak mungkin dirangkai.

Era digital membuat ide gila muncul justru dari kolaborasi yang semakin multi dimensi, hal-hal yang dulu tak mungkin bersatu justru kini dinantikan bentuk-bentuk barunya. Meski dulu bisa jadi tabu, tak mungkin atau bahkan tak ada pasarnya. Salah satu contoh kolaborasi yang unik dilakukan Burgreens dan Green Rebel  @greenrebelfoods misalnya, sekarang usaha ini mendunia dengan Green Rebel, coba liat model bisnisnya deh.

Kolaborasinya unik sekali bersama bisnis lainnya. Mereka tidak membuat toko, mereka titipkan menunya pada banyak bisnis lain, termasuk di resto saingannya. Proses kolaborasinya ngga terbayangkan sebelumnya. Keren! Sebelumnya mereka mengembangkan Burgreens yang sukses mengenalkan flexitarian (flexible vegetarian) yang mengajak #TryVegan dengan #OneVeganMealADay buat kamu yang masih setengah-setengah jadi vegan. Uniknya, value ini justru jadi peluang kolaborasi dengan mitra lain yang justru tak menjadikan vegetarian jadi jualannya. Kolaborasi yang keren!

Kolaborasi gila ini banyak dilakukan, kapan nih kita mulai?

Tapi jangan salah, menjadi Agile juga tidak menjadikan kita chaos

Era VUCA atau BANI, satu kata yang menggambarkannya “Ruwet”. Kata ini muncul dalam diskusi kami kemarin, hingga era ini memang sangat fundamental untuk memahaminya dengan cara berpikir yang baru dan relevan terhadap perkembangan yang serba cepat. Berubah menjadi ruwet ya memang karena konstelasi proses, sistem dan mekanisme menjadi baru yang tak bisa dipahami dengan paradigma tradisional.

Menjadi Agile, sebuah terminonologi yang sedang sering terkemukakan, namun memaknainya memang menantang. Apalagi jika populasi masyarakatnya mayoritas masih terkungkung dalam pola pikir tradisional yang menuntut berbagai kejelasan pada setiap langkah yang Ia ingin jalankan. Hal ini timbul karena memang Ia terbiasa dengan proses bisnis lama dan mendarah daging dalam kehidupannya dan membentuk pola pikirnya saat ini.

Era dimasa pandemik melandai ini juga menjadi penanda makin jelasnya sesuatu yang unclear atau tak jelas semakin banyak ditemui diberbagai ruang kehidupan, hingga hal ini membawa pada prasyarat yang juga tak jelas. Sementara masyarakat masih nyaman dengan sesuatu hal yang pasti dan jelas.

Menjadi Agile, tak lagi membawa pada hal-hal yang pasti dan jelas yang dapat dideskripsikan. Tapi jangan salah, menjadi Agile juga tidak menjadikan kita Chaos. Mengupayakannya untuk mengeksplorasi ruang antara clear dan unclear, antara simple dan chaotic, antara kompleksitas dan simplisitas. Memastikan outcomes dan dampaknya terwujud.

Dalam mencapai tujuan, maka ada upaya yang kompleks & unik dimana tak ada satu ukuran yang cocok untuk semua pendekatan, hingga dalam menyelesaikannya kita perlu menyesuaikan metodologi pada setiap tujuan yang berbeda.

Coba petakan permasalahan dan kondisinya, matriks Stacey ini mungkin bisa membantu kamu dimana kita menggunakan pendekatan Agile atau Waterfall. Petakan lagi kondisi, prasayarat dan kaitannya dengan teknologi. Ada dimana mereka. Agile memang berada pada kompleks, maka jalan bersolusinya adalah dengan ko-kreasi, bergagasan yang kolaboratif, visioning, eksplorasi, pengembangan yang iteratif hingga knowledge management.

Bereksplorasilah hingga kamu lebih dekat dengan tujuan!

Creative Confidence

Sebuah buku bertajuk dua kata di atas menggambarkan bagaimana sebuah proses kreatif menumbuhkan “creative muscle” yang kuat untuk mendorong sebuah perubahan yang besar.

Terdapat delapan langkah bagaimana kita bermula untuk bergeser agar creative confindece membesar dan menguat;

1.Flip!
menjadi empati
(From Design Thinking to Creative Confidence)

2.Courage!
Mebangun Keberanian
(From Fear to Courage)⁣
Dari banyak gagal jadi berani

3.Spark!
Menggali Insight
(From Blank page to Insight)⁣

4.Leap!
Aksi!
(From Planning to Action)⁣

5.Seek!
Passionate!
(From Duty to Passion)⁣

6.Team!
Membangun Tin
(Creatively Confident Groups)⁣

7.Move!
Bergerak
(Creative Confidence to Go)⁣

8.Next!
Berlanjut.
(Embrace Creative Confidence)⁣

Menjadi kreatif selalu bermula dari cara berpikir dan kayanya imajinasi. Itu mengapa setiap perubahan yang terencana menjadi penting bermula dari mindset kemudian menuangkannya dengan pedekatan-pendekatan baru yang kontekstual.

Manajemen perubahan versi Tom dan David Kelley ini memang menarik, delapan langkah tadi jadi penting untuk menggabungkan kreativitas dan inovasi menjadi otot-otot perubahan. Kreativitas bukan semata-mata produk, namun lebih dalam adalah pola pikir, cara berpikir serta pendekatan yang proaktif menemukan solusi-solusi baru.

Saya pribadi bukanlah seniman, dan juga mungkin sebagian besar pembaca caption ini. Namun, tentu kita bisa menjadi lebih kreatif dalam peranan-peranan dan profesi kita. Sebuah Creative Confidence, atau Kepercaya-dirian atas kreatifitas akan memberikan pembeda dalam setiap langkah pergerakan, usaha atau bahkan karir kita.

Seperti halnya balon-balon biru ini, walau sederhana, namun jadi pembeda yang besar. Begitu juga kreatifitas, hal-hal kecil yang sederhanalah yang justru membawa banyak pembeda yang perlu digali hingga mendatanglan banyak kebaruan. Apalagi kita kita berkelompok, tentunya creative muscle kita akan semakin kaya, untuk melompat lebih jauh!

Selamat berkarya tim Komite Penataan dan Ekonomi Kreatif Kota Bandung🚀

Sudah sejauh mana dan seserius apa kita menyiapkan pendidikan masa depan?

Berbincang dengan mahasiswa dalam memulai penelitiannya, kami memulainya dengan pertanyaan, apa yang kamu inginkan dimasa depan? apa yang disukai & paling mendatangkan energi deras ketika kamu melakukannya? Jika belum tau masa depannya apa, eksplorasilah dulu, tak usah terburu-buru hingga kamu tau apa yang diinginkan.

Menuangkan kalimat diatas, nyatanya memang menantang kontekstualisasinya. Perlu keberanian ditabrakkan dengan kurikulum konvensional saat ini. Namun, merancang pendidikan bagi masa depan adalah hal yang tak bisa ditunda, perlu dipersiapkan & disegera-lakukan. Bagaimana memulai aksi-aksi nyata fundamental menuju inklusitiftas, ekosistem pengetahuan partisipatif. Terkait ini, sebuah konsep terkait Future of Eduction bertajuk “Near Future Education” menarik untuk disimak.

Masa depan memang belum nyata ada, tapi jadi sangat penting mencipta suspensi yang memungkinkan melakukan proses eksplorasi berbagai kemungkinan dimasa depan hingga dapat menarik beragam masyarakat dengan beragam latar belakang hingga memungkinkannya menjadi para performers masa datang, mengekspresikan dirinya bukan hanya pada hal-hal teknikal & teknologi, tapi juga dalam rangka menghadirkan masa depan yang Ia inginkan & disukainya.

Merancang pendidlikan masa depan perlu dimulai dengan memetakan dahulu peta masa depannya, kombinasikan aktivitas teknis, teknologi bersama hal-hal ethnografis lainnya agar kontekstual. Kemudian padukan dengan beragam kebaruan, tren, pola dan aspek-aspek lain seperti sosial, budaya, ekonomi dll. Penting juga untuk menggambarkan hal-hal yang tampak aneh hari ini, yakni hal-hal yang walau tak belum xdirasakan manfaatnya hari ini tapi dimasa depan hal-hal ini akan tampak jelas dan tumbuh.

Pendidikan masa depan tentu perlu mendapatkan redefinisi baru, karena variabel kontektualnya menjadi lebih kaya diera teknologi digital ini, yakni (RMIT, 2022)
1. Keterhubungan, kolaborasi, dan kreasi bersama
2. Di mana saja, kapan saja belajar
3. Kustomisasi untuk pendekatan yang mengutamakan pembelajar
4. Menguji coba, menitikberatkan pada proses dan perkembangan belajar.

Sudah sejauh mana dan seserius apa kita menyiapkan pendidikan masa depan?

merangcang produk-produk sukses dipasar dan dilakukan secara by-design.

Diskusi semalam bersama banyak kawan-kawan alumni bagaimana merangcang produk-produk sukses dipasar dan dilakukan secara by-design. Kebetulan pagi ini juga menyiapkan sebuah konsep pembelajaran atas permintaan sebuah perusahaan untuk mengajarkannya berbagai macam tools yang bisa membantu timnya berakselerasi.

Tools, idealnya adalah teknologi yang dapat membuat kita bekerja lebih baik, lebih cepat dan melahirkan lebih banyak hasil. Hanya memang kerap kali kita terjebak dengan tools tanpa memastikan apakah ini akan membantu kita menuju goals yang sebenarnya dan menjamin keberlanjutannya?

Mengenalkan tools kerap justru melelahkan, apalagi bagi usaha-usaha yang rajin berlanggan aneka tools baru hanya untuk memuaskan hasrat owners atas produktivitas yang dinginkan misalnya, tapi ternyata timnya justru kelelahan menggunakannya. Secara visual, memang teknologi, apalagi terkait aplikasi digital yang kini deras hadir justru ditangan organisasi yang menitikberatkan pada peningkatan produktifitas dibanding keberlanjutan akan menyebabkan kelelahan pada organisasinya.
Bukan hanya organisasi, ini juga terjadi pada individu-individu yang mengutamankan output ketimbang outcomes yang menggunakan tools yang berorientasi asal beres.

Tools menjadi penting memang untuk memastikan seberapa cepat kita bekerja dan seberapa dekat lagi dengan visi kita. Secara teknis juga mampu membantu kita mengatur tim yang dibuat dengan multi peran, mengartur penjadwalan dan perencanaan, manajemen sumberdaya, pengangaran & dokumentasi. Namun lebih dalam, memahami tools lebih dalam akan membawa pada kondisi organisasi atau individu yang lebih kuat secara kuktur, ketangkasan, ketajaman pola pikir, kemampuan inovasi dan menjadikan tim perlahan mejadi ekosistem canggih berupa collective genius.

Coba cek lagi tools yang digunakan, apa benar meningkatkan pada produktifitas, atau perlahan-lahan justru menjadi silent killers dibaliknya? Memangkas proses bisa menjadi lebih cepat namun disaat yang sama juga menumpulan kreatifitas. Jika dengan tools ini ternyata juga tumbuh tools fatique & berkurangnya interaksi antar tim hingga memudarnya kebahagiaan dalam tim maka segerakan mengevaluasinya❤️

The Pygmalion Effect

Kami selalu yakin bahwa tiap orang terlahir jenius, artinya memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Dalam keseharian, kami menemukan banyak individu & mengikutkannya dalam banyak program nyaris tanpa seleksi karena ada selalu keyakinan bahwa terdapat potensi yang dapat dibangkitkan darinya. Walau di banyak tempat beberapa individu tak terwadahi karena aneka ragam kriteria tak fit dengannya.⁣

Tiap individu menjadi penting di-influence dengan hak dirinya untuk maju & berkembang, meyakinkan ada sesuatu luar biasa dalam dirinya. Memiliki pendekatannya berbeda-beda itu biasa, namun ada satu perlakuan yang sama perlu ditumbuhkan, yakni “harapan positif yang dilekatkan & dijaga untuk tumbuh pada setiap langkah memandirikannya”.


Efek Pygmalion. Fenomena psikologis yang menjelaskan kala harapan baik dilekatkan pada seseorang akan menyebabkan peningkatan performa. ⁣


Pygmalion berasal dari mitologi Yunani tentang pemahat yang mengukir patung wanita & jatuh cinta padanya. Karena tak mampu mencintai manusia, Ia mengimbau Aphrodite, Dewi Cinta yang menghidupkan patung tersebut, kemudian menikah & melahirkan seorang putri, Paphos.⁣

Efek ini menjelaskan siklus jika kita meyakini seseorang bisa berkemampuan positif, maka akan mempengaruhi sikap kita padanya. Sikap ini akan berdampak pada individu tersebut sehingga rasa percaya dirinya tumbuh & berdampak pada semakin baik kemampuannya. Perbaikan yang tampak tersebut menimbulkan efek pada diri kita yakni menguatnya validasi atas keyakinan awal, bahwa Ia benar memiliki mampu berkembang. Siklus ini penting dijaga keberlanjutannya sehingga terus menerus lebih baik.⁣

Dale Carnegie pun pernah merekomendasikan efek ini pada pembacanya dengan menuliskan “Giving others a great reputation to live up to” & “A wise man raise his expectations of others, and he will naturally do their best to satisfy those expectations”⁣

Menjadi semakin yakin, bahwa tiap orang berhak mendapatkan ekosistem yang mampu menguatkannya. Efek ini penting dipahami pada setiap orang melabeli dirinya sebagai enablers atau pemberdaya atau peranan lainnya sebagai bagian penting karakter leadership yang ditularkan.⁣

Meramu Purpose Personal dengan Organisasinya

kedatangan tamu istimewa, Agile Coach kami @putiretnoali menghabiskan tiga hari lamanya menemani proses retrospektif kami.

Jum’at siang selepas makan siang, kami berkumpul di ruang tengah. Ruang yang menjadi melting-pot setiap unit @thelocalenablers . Pembicaraan siang itu, dibuka dengan pertanyaan menarik yang ditujukan pada seluruh anggota tim kami, pertanyaannya adalah’: “Sebutkan dua hal yang paling urgent yang kamu inginkan!”

Kemudian setiap anggota tim mengemukalan dua hal yang penting bagi dirinya. Hal yang menarik dari jawaban-jawaban pada umumnya dalam menjawab kedua hal paling penting ternyata berpusat pada dirinya, seperti ingin kaya :D, segera mendapatkan pasangan, membeli kendaraan, membangun rumah, membahagiakan orang tua dan hal-hal lainnya yang self-centered.

Dua hal penting bagi dirinya adalah pertanyaan pemancing yang menarik! dimana pertanyaan ini diutarakan di tempat dimana mereka diberikan wadah untuk berkarya bersama tim dan ekosistemnya.

Hal ini bisa jadi terjadi ditempat lain dimana anggota tim lupa atau perlu disadarkan bahwa tempat mereka berkarya juga perlu menjadi diprioritaskan, tapi tak terucap jua.

Pertanyaan seperti ini membuat saya teringat pada sebuah model bernama Butterfly Model – Wolf Olins. Model ini menggambarkan bagaimana perlunya kita menyelaraskan Personal Purpose di sayap kiri dengan Organizational Purpose di sayap kanan, hingga munculah irisan purpose yang memang perlu kesadaran penuh dalam menyelaraskannya.

Jika kita terbang dengan satu sayap tentunya sulit, terbang sesaat kemudian jatuh. Organisasi menjadi wadah yang penting dalam membangun the ultimate purpose. Bagaimana pun sebagai makhluk sosial, kebutuhan berkelompok menjadi hal yang tak terhindarkan, sebuah naluri mendasar tak terelakkan. Mencari anggota tim yang homogen juga bukan jawaban yang tepat, karena akan membunuh kreativitas. Ekosistem yang baik adalah ekosistem yang menberikan ruang untuk meramu purpose personal dengan organisasinya, hingga kita bisa terbang jauh dan memastikan kerberlajutannya.

Gimana dengan kamu? Coba sebutkan dua hal yang paling urgent yang diinginkan! Adakah yang bisa kamu ungkap agar keduanya menjadi seimbang?

Awas! “Homogenous Teams Feel Easier, but Easy Is Bad for Performance”

Gimana rasanya punya tim kompak? Jika bertemu & berdiskusi makin cepat setuju , tak ada perlawanan/gagasan baru. Tim yang makin nyaman karena dirasakan semakin tak ada hingar bingar perselisihan lagi, sangat cepat setuju & lancar prosesnya, bukankah hal ini sangat didamba setiap tim?

Studi Personality & Social Psychology Bulletin,2009 mengungkap fakta terkait identitas kelompok yang homogen berakibat pada terciptanya rasa kesamaan/ketidaksamaan yang kuat dengan orang lain. Memang masuk akal jika tim yang kompak, aman & homogen maka orang-orang akan dengan mudah saling memahami , proses kolaborasi mengalir dengan lancar. Tapi, hati-hati ya, hal ini akan memberikan sensasi kemajuan semu. Karena beranggapan berurusan dengan beda yang akan menyebabkan gesekan, berasa kontraproduktif.

Awas! “Homogenous Teams Feel Easier, but Easy Is Bad for Performance”

Faktanya, bekerja dalam tim beragam akan menghasilkan hasil yang lebih baik, justru karena lebih sulit prosesnyalah yang bertentangan dengan intuisi banyak orang. Ada istilah Fluency Heuristic, dimana kita lebih suka informasi yang “diproses lebih mudah atau lancar” kemudian menilai hal ini lebih benar/indah”

Dampaknya tim jadi punya pemahaman bias atas proses pembelajaran yang dirasa benar. Kondisi ini mengarahkan apresiasi hanya ditujukan pada hal-hal yang semuanya menjadi lebih mudah diproses, tim jadi belajar dari proses yang kurang tepat. Menjadi lebih sering mengulang-ulang hal yang sama tanpa kebaruan, jadi lebih akrab tanpa banyak usaha, hingga merasa bahwa mereka berprogres.

Bekerja dengan tim yang heterogen justru akan berdampak dalam performa & inovasi yang lebih baik. Anggap aja seperti dalam berolahraga, no pain no gain. “Diversity Can Increase Conflict, but Not as Much as You Think”

Pastikan mempertahankan keberagaman ide, pengalaman, cara pandang & aspek lain. Belajar mengkapitalisasi perbedaan dalam tim. Kemampuan meramu perbedaan jadi racikan jitu adalah kreatifitas dalam tim. Harganya mahal, karena dinamikanya membawa pada iklim yang sehat dalam melahirkan berbagai kebaruan, baik cara maupun produk solusi.

“Capitalizing on Diversity Means Highlighting — Not Hiding from Differences”

Trusting; Being Guided By Values

Titik tertinggi dalam tim adalah saling percaya, sebuah kondisi dimana setiap individu memiliki keleluasaan berinisiatif seluas-luasnya dan menyelaraskannya bersama menuju goals yang disepakati.

Namun sesungguhnya ada puncak diatas titik tertinggi dalam tim, yakni trust pada ekosistem. Nah ini yang menjadi tantangan bisnis saat ini. Salah satu hal yang bergeser dalam transformasi digital adalah bergesernya penguasaan model bisnis menjadi ekosistem bisnis.

Coba perhatikan di era digital ini, kala banyak perusahaan merger dengan usaha-usaha yang justru tak sejenis. Mereka bergabung menjadi raksasa yang bukan tunggal pada satu bidangnya, tapi melengkapi jadi satu ekosistem dan bermitra strategis.

Gojek dan Tokopedia jadi Goto misalnya, atau Bank Mega + Salim Group + Bukalapak menjadi Allo Bank dan contoh-contoh lainnya begitu banyak. Menempatkan trust dan membentuk ekosistem bisnis hari ini menjadi salah satu kekuatan jika ingin menjadi pemenang. Berkolaborasi.

Hal ini menjadi penting mengapa kita perlu membangun trust, karena didalamnya ada hal yang menarik.

Trust akan menuntun proses inovasi yang dipandu oleh nilai luhur “being guided by the value” sebuah fundamental penting dalam proses inovasi, karena akan banyak berhadapan dengan proses eksperimen yang membuahkan banyak lompatan kecil dan kemudian menggurita menjadi disrupsi. Eksperimen akan banyak menghasilkan temuan berupa kesalahan-kesalahan yang menuntun pada cara-cara baru kemudian yang menjelma menjadi inovasi jika terjaga proses iterasinya. Hal ini tak mungkin terjadi jika trust tak tumbuh jua.

Bagaimana dengan tim kamu? Bagaimana proses membangun trustnya berjalan baikkah? Yok didorong sungguh-sungguh agar bisa kemudian melesat kepuncak membentuk ekosistem yang kuat, ekosistem yang sepakat untuk melesat dengan value yang kuat🚀