Culture Shifting

Perubahan adalah hal yang paling penting dilakukan organisasi-organisasi yang ingin tetap adaptif, tak bisa dipungkiri perubahan adalah keniscayaan.

Di perubahan era ini tak lagi kita bisa melakukannya secara serial, tapi secara paralel bagaimana organisasi bisa menjadi tangkas? Cultural Shift selalu menjadi isu penting dalam mengubah budaya jadi lebih baik. Kerap organisasi melakukan proses perubahannya dengan memperbanyak pelatihan, sosialisasi atau dengan beragam media yang Ia gunakan untuk melakukan propaganda perubahan budayanya.

Tak bisa tiba-tiba sebuah organisasi yang mengidamkan Cultural Shift dalam waktu singkat. Apa media terbaik untuk mengakselerasi perubahan? Tidak lain adalah dengan menjadikan organisasinya sebagai organisasi pembelajar. Cara-cara baru dilakukan melalui kegiatan-kegiatan nyata, proyek-proyek nyata yang semakin baik & semakin baik lagi.

Setiap kegiatan menjadi media belajar untuk menjadi makin baik dari segi produk dan manajemennya, begitu juga dengan organisasinya.

Jika pada setiap kegiatan kita merasakan selalu bermula dari nol, maka aktivitas & kegiatan yang telah terjadi bukan hanya tidak jadi bahan belajar serta produk yang tak sukses. Sesungguhnya yang menderita adalah organisasinya, menjadi lelah karena setiap pembelajaran tak terinstitusionalkan, pun jadi melelahkan tak berprogres.

Pastikan tiap project jadi wadah belajar, tersedia artefak, dibagi pengalamannya hingga dihindari kesalahan lalunya. Hingga membuahkan organisasi yang berhasil melalui Culture Shiftnya.

Tak ada yang instan, yang ada adalah proses yang terakselerasi dengan baik &bertahap. Komitmen kuat jadi fundamental tiap anggota untuk melakukan proses perbaikan terus menerus serta proses eksperimental terukur & dilakukan terus menerus.

Salah satu yang direkomendasikan untuk melakukan Culture Shifting dengan pendekatan proyek adalah dengan kerangka kerja Scrum.

Scrum sangat menekankan lingkungan kerja yang safe-to-fail karena inovasi berawal dari orang-orang yang tak takut untuk terus menerus belajar & mencoba hal yang baru. Sangat cocok untuk organisasi yang rendah-hati untuk terus belajar & menekankan budaya continuous learning mengedepankan inovasi.

Banyak kegagalan justru jadi modal mahal menjadikan “creative muscle” makin bersar

Melesatkan kembali kapal oleng adalah pembelajaran mahal, namun prosesnya memunculkan banyak hal baru yang justru semakin dicintai karena prosesnya membuahkan banyak hal yang beyond! Banyak kegagalan justru jadi modal mahal menjadikan “creative muscle” makin bersar.

Perjalanan bersama tim menuju Jakarta hari ini mengemukakan dinamika dalam sebuah organisasi adalah hal penting. Justru jika organisasi terasa dingin dan senyap bisa jadi Ia dalam keadaan genting, karena tak ada lagi yang perlu digagas dan dituju. Hipotesa yang menarik!

Dalam perjalanan membuahkan kebaruan kegagalan-kegagalan sudah pasti perlu dilewati, menjadikannya lesson learn berharga. Lihat saja usaha sekelas Google, begitu banyak kegagalan sebelum sebuah produk meluncur sukses. Hanya saja aktivitas mencari kesalahan itu mereka namai sebagai eksperimen.

Eksperimen tak mencari keberhasilan, juga tak mencari keberhasilan, Ia menuntun pada sesuatu yang baru, persistensi pengulangannya membuat hal menjadi beyond & luar biasa!

Eksperimen yang semakin terpola, mengarahkan pada “creative confidence” yang membesar. Jadi teringat kisah Thomas Alva Edison yang diundang berbicara dalam pertemuan para ilmuwan & bangsawan Inggirs, ia mendapat sindiran;

“Hai Thomas ku dengar engkau gagal sampai 1448 kali dalam mengadakan uji coba menemukan bola lampu listrik ya?” Tanya seorang bangsawan

“Tuan maaf saya tak pernah gagal ,saya hanya menemukan cara yang tak bisa menbuat bola lampu menyala lewat listrik sebanyak 1448 kali & hingga kali ke 1449 kali saya temukan cara untuk menyalakan bola lampu dengan listrik”

Dalam konsep inovasi, Alex Osterwalder menjelaskan untuk mendapatkan satu inovasi, ada explorasi yang intens dilakukan dibaliknya dalam jumlah yanh banyak. Bukan gagal, tapi eksperimen yang mendatangkan pembelajaran hingga hadir kesempurnaan inovasi yang semakin baik dan semakin baik lagi. Proses ini tak akan berakhir, ujungnya adalah keberlanjutan yang terpelihara.

Selamat bereksplorasi!

Waktunya beralih dari Egosystem ke Ecosystem!

Salah satu pilar terpenting dalam proses transformasi digital adalah ekosistem dan interaksinya, setelah sebelumnya adalah perubahan cara berpikir dari produk sentris ke user sentris, organisasi yang hierarkis ke organisasi network yang agile.

Jika dulu kita berupaya sedemikian rupa membangun model bisnis dengan segala keunggulannya, justru saat ini kita perlu tau bagaimana sebenarnya kepingan puzzle kita berbentuk, dan layak mencari yang seperti apakah pasangan yang pas untuk mengelaborasinya. Ekosistem! Tentu berbeda dengan Egosistem.

Membentuk ekosistem secara ideal memang mudah terucap, namun sejatinya idealismenya akan terlihat dari bagaimana Ia berinteraksi, bagaimana Ia melakukan perbaikan komunikasinya secara terus menerus, melakukan perbaikan bentuk kolaborasinya, menyempurnakan bentuk puzzlenya untuk menjadi klop satu sama lainya.

Untuk kapitalis besar, memang begitu mudah Ia mengucurkan modal dan membentuk ekosistemnya sendiri, namun buat kamu yang kecil, justru ini keunggulan kamu melakukan kolaborasi yang lebih fluid.

Organisasi-organisasi yang lean akan lebih fleksibel membentuk ekosistem, bersama-sama menciptakan ekosistem yang dinamis, beda dengan kapitalis besar walau mereka bisa membentuk ekosistem yang lengkap, belum tentu mereka bisa dinamis mereka justru kerap terjebak dengan rigiditas ekosistemnya.

Masih ingat dengan rumus P=MxV, Kekuatan gerak dikali dengan kecepatan akan melahirkan momentum yang besar. Maka tak usah ragu jika kecil, karena kecil kita bisa bergerak cepat dan membuat momentum yang besar, apalagi jika pergerakan ini berbondong-bondong dan banyak dalam sebuah ekosistem, hasilnya akan menjadi kekuatan yang sangat besar!

Waktunya beralih dari Egosystem ke Ecosystem!

“Collaboration is about so much more than a tool for achieving business goals or personal dreams. Collaboration is about compassion, love, support, kindness, and the power that we gain when we share with each other and lean on each other”

Bagaimana Bikin Tim yang Minimal Tapi Gesit?

Sebenernya bikin tim nggak terlalu sulit. Bikin yang lincah karena Ia kecil, lean tapi powerful. Tentang tim sebenarnya ada konsep MVT (Minimum Viable Team)  dimana kondisi tim minimum perlu terdiri dari apa aja?

Hustler, punya kemampuan networking yang luas dan bisa jualan!
Hipster Biasanya dia punya kelebihan dalam hal kreatif! 
Hacker, orang yang inovatif dan akrab dengan teknologi

Nah di Indonesia sebenarnya konsep tim ini sudah ada lama sekali. Kalo kamu kenal dengan tokoh-tokoh pewayangan Jawa, ada tokoh-tokoh terkenal dalam satu kelompok bernama Punakawan.
Punakawan adalah penjelmaan dewa yang terdiri atas Semar dan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Kelompok ini dikenal sebagai penasihat spiritual, teman bercengkrama, dan penghibur di kala susah yang bertugas mengajak para ksatria asuhannya untuk selalu berbuat kebaikan.

Nah kalo dihubungkan dengan kekuatan tim, ini sangat cocok, apalagi dengan para pelaku startup yang ingin timnya lean dan cross functional! Nah yang menarik dari Punakawan ini berasal dari kata “pana” yang artinya paham &  kawan yang artinya “teman”. 

Peranan masing-masing bisa breakdown seperti
1. Semar, erat dengan leadership. Ia berperan sebagai pemimpin yang hadir dengan kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika mengalami kebahagiaan 

2. Nala Gareng,  Entrepreneur. Ia hadir seperti hustler, walau ia hadir dengan ketidaklengkapan bagian tubuh, mengalami cacat kaki, cacat tangan, dan mata.

3. Petruk , layaknya Hacker, ia selalu hadir dengan Inovasi. Ia selalu konsisten mencari kebaruan, berpikir panjang dan konsisten.

4. Bagong, Ia layaknya seperti Hipster yang kreativitas. Kreatifitasnya hadir karena kesederhanaannya, sabar, tapi tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia, selalu retrospektif dan belajar dari bayangan dirinya sendiri dan memperbaiki dirinya.

Jadi gimana tim kamu, sudah lengkap belum komposisinya?

Belajar dan Berkarya Di Ruang Nyata

Perjalanan ini layaknya proses kreatif yang memang diawali dengan perasaan takut. Apalagi bagi anak-anak muda ini yang terbilang baru bagi dunia-dunia nyata berhadapan langsung dengan dunia kerja, dunia nyata masyarakat. 

Ada excitement melakukannya di awal, kemudian dihadapkan pada pengalaman-pengalaman nyata yang jika dipelajari di kelas banyak variabel yang tak ditemukan.  Soal-soal di ruang kelas kerap kali variabel-variabel nyata sering diganti dengan asumsi, dan jumlahnya pun banyak. 

Sehingga persoalan di ruang kelas seringkali dihadapkan seolah-olah ideal, padahal kenyataannya jauh, tapi institusi pendidikan kerap mengatakan “ya bagaimana lagi, kami banyak keterbatasan sumber daya”

Memberikan ruang kreatifitas, bergera, berkarya dan mendampingi mereka seyogyanya adalah sumber energi jika memang orientasi kita pada tumbuh dan berkembangnya generasi penerus.

Memberikan pengayaan berupa panggung-panggung belajar bagi mereka sebenarnya bagi saya pribadi justru menjadi wadah belajar yang paling kontekstual yang melahirkan banyak hal-hal baru, bukan saja mengenal bagaimana semestinya kita berinteraksi dengan generasi ini, tapi juga menuai hal-hal baru dalam beragam pendekatan, perangkat, manajerial dan inovasi-inovasi pergerakannya.

Perbedaan generasi seyogyanya menghadirkan disrupsi. Disrupsi adalah gangguan yang menghasilkan inovasi. Jadi dikatakan disrupsi karena bergabungnya multi generasi dalam sebuah kolaborasi akan melahirkan kelengkapan.

Kalangan senior membawa wisdom, kematangan, network dan knowledge, kalangan muda membawa keberanian bereksperimen dan penguasaan akan jamannya yang berbeda.

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn” (Benjamin Franklin).

Social Enterprise

Menuju Lombok, bersua dengan 17 StartUp matang dari beragam penjuru ASEAN.

Kali ini kami bersama UNDP bersama-sama berkompetisi menjawab tantangan bagaimana menghadirkan usaha-usaha berbasis inovasi yang ditujukan pada kelestarian lingkungan. Lebih spesifik lagi menggagas usaha-usaha inovatif memerangi limbah plastik.

Kehadiran 17 usaha-usaha anak muda yang model-model bisnisnya ini sudah proven adalah bukti bahwa tak dipungkiri lagi bahwa saat ini produk-produk inovatif tak bisa lagi hanya mempertimbangkan profit, tapi juga memastikan keberlanjutannya dengan memadukan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Teknologi jadi media katalisator terjadinya inovasi dan dampak sosial yang luas.

Tidak banyak, tapi mulai banyak tumbuh social entreprises yang menjadikan teknologi sebagai mesin utama perubahannya. Menyandingkan teknologi bersama visi sosial menjadi penting, apalagi membuncahkannya bersama kreatifitas.

Mengapa bisnis sosial menjadi tren walau pada kenyataanya sebagian besar perusahaan sosial merasakan kesulitan untuk menciptakan bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan, hingga proses menemukan model bisnis yang paling pas adalah hal yang paling menantang, sangat unik untuk setiap usahanya.

Cara paling layak bagi wirausahawan sosial untuk memberikan kembali paradigma ekonomi baru menyeimbangkan people, planet dan proseperity sebagai kesatuan mekanisme yang utuh untuk memenuhi tujuan yakni memberi dampak dengan cara yang lebih positif yakni model binis sosial.

Kita eksplor bisnis-bisnis sosial ini di Lombok!🎉

Metafora Pensil by Lindy McKeown

Berkumpul dengan para pengusung perubahan di dunia pendidikan, Membahagiakan mendapatkan kesempatan ekosistem pembaharu & berkesempatan mengenalkan proses transfromasi pendidikan memang menjadi tantangan yang nyata, kala keinginan memberikan proses pendidikan berkualitas menjadi penjalanan panjang.

Pada kenyataannya, mendiseminasikan kebaruan memang pada kenyaatannya sang inisiator menjadi terkendala pada bagaimana mendiseminasikan kebaruannya pada keseluruhan populasi organisasinya.

Dalam sebuah tulisan Lindy McKeown “The Pencil Metaphor: 6 Ways Teachers Respond To Education Technology” metaphora yang cukup mewakili perasaan dan fakta yang terjadi dalam upaya menebarluaskan kebaruan dan inovasi yang diharapkan menghadirkan katalis untuk mewujudkan proses pendidikan yang lebih baik.

Metafora ini menampilkan pensil yang mewakili kondisi sesungguhnya bagaimana sebuah inovasi terimplementasikan.

The Leaders
Menjadi yang pertama mengadopsi teknologi baru, dokumen dan praktek-praktek baik yang baru

The Sharp One
Mereka memperhatikan para inisiator, mengambil & mencontoh, belajar dari kesalahannya dan melakukan hal dengan sebaik-baiknya

The Hanger On
Tahu akan perkembangan, menghadiri beragam seminar tapi tak melakukan apapun

The Wood
Mereka akan menggunakan teknologi jika orang lain melayanani & menunjukkan bagaimana menggunakan dan memanfaatkannya

The Ferrules
Mereka mempertahankan apa yang diketahuinya dengan ketat. Teknologi tak mendapatkan tempat dikelasnya

The Eraser
Berupaya melakukan usaha untuk menghapuskan inisiatif yang dilakukan para Inisiator

Mirip dengan konsep Difusi Inovasi, para penggagas memang selalu berjumlah sedikit, diikuti oleh para early adopters. Perjalanan menantang mewujudkan portofolio keberhasilan hingga golongan mayoritas mulai melirik & mengaplikasikannya.

Untuk itu bekal pengetahuan mendiseminasikan inovasi jadi perangkat penting bagi para inisiator agar tak kehilangan energinya karena perjalanannya terlalu dinamis dan tak terukur.

Mengelola perubahan juga adalah keterampilan penting agent of change, karena dalam perjalanannya perlu terampil membagi sumber daya, memilih simpul dan memastika inisiasinya berlanjut.